Nusa Sukma
Mengapa belum berhenti beli bajakan…?
by Mario on Aug.09, 2009, under Nusa Sukma
Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang barang bajakan dengan judul “Berpikirlah Sekali Lagi”. Pada tulisan itu saya mengungkapkan kegundahan hati saya tentang barang bajakan, terutama yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari contohnya dvd dan cd bajakan yang sering kita jumpai di mana-mana. Saya meminta beberapa teman untuk membaca tulisan saya itu dan saya mengamati reaksi mereka satu per satu. Menarik memang mendengar dan mengamati reaksi mereka dan saya mencoba memahami perspektif mereka terhadap apa yang saya tulis. Ada yang hanya tersenyum dan tidak berkomentar, ada yang bilang : bagus!; dan ada yang mendiskusikannya dengan saya. Saya sempat terharu ketika itu ada seorang teman yang dengan tanpa paksaan akhirnya berhenti membeli dvd bajakan setelah membaca tulisan saya, saya lega. Bukan karena merasa hebat, hanya terharu karena saya jadi merasa tidak sendirian.
Kali ini, saya ingin menulis kembali tentang itu, tentang barang bajakan. Saya baru saja kemarin dari ITC Kuningan dan hari ini ITC Fatmawati karena ada yang sedang saya cari. Kesempatan itu saya pergunakan juga untuk mengamati perkembangan ‘dunia barang bajakan’ di kedua tempat itu. Ternyata memang belum banyak berubah. Masih banyak saja mereka yang dengan serius memilih-milih dvd film terbaru dan cd musik yang mereka ingin koleksi. Dari bapak-bapak yang bawa anaknya, mbak-mbak, ABG, wajah-wajah yang pantas untuk jadi mahasiswa, pokoknya hampir semua kalangan. Saya masih dapat melihat bahwa mencari dvd bajakan menjadi sebuah kegiatan rekreasi yang (mungkin) menjadi kebiasaan setiap week end bagi beberapa orang.
Jika pada tulisan terdahulu saya mengulasnya dari sisi yang mungkin cenderung religius, maka kali ini saya hanya ingin mengulas ketakutan saya. Mengapa dvd bajakan itu tetap ada dan terus ada dan mungkin making bertambah jumlahnya? Jawabannya anda pasti tahu, ya, karena ada demand. Ada yang secara kontinyu membelinya. Bisnis ini menjadi bisnis yang tak pernah mati karena supply hanya akan tetap hidup jika (1) demand tetap tinggi dan (2) tidak ada gangguan supply. Kedua supporting points itu saya amati memang tetap ada sehingga tidak heran bahwa bisnis ini tetap hidup. Saya takut bahwa semakin hari, masyarakat semakin permissive (makin setuju) bahwa adanya barang bajakan adalah hal yang lumrah dan wajar. Saya takut bahwa masyarakat memandang ini sebagai sebuah escape window dari masalah ekonomi. Saya takut bahwa membeli barang bajakan akan di-amin-i sebagai sebuah langkah berhemat. Dan jika seorang ayah membawa anaknya yang masih kecil membeli dvd bajakan misalnya, dan ketiika ditanya ‘kenapa membeli di sini?’ dan sang ayah menjawab : di sini lebih murah, apa yang akan terjadi nantinya? Sang anak akan menyimpulkan bahwa tidak ada tempat lain untuk membeli dvd selain di tempat itu.
Karena bisnis bajakan dilihat sebagai bisnis yang menguntungkan dan dianggap tak pernah mati, maka ’supply’ akan terus menjamur. Saya yakin akan makin banyak orang yang terjun ke bisnis ini di hari-hari mendatang. Apalagi, jika saya lihat bisnis ini meskipun ‘dilarang’ tapi seolah tak tersentuh oleh ‘hukum’ karena sekarang berjualan barang bajakan makin terang-terangan dan makin mudah dijumpai di mana-mana. Hal ini juga membuktikan bahwa hukum juga makin permissive dengan bisnis ini. Sesekali memang ada razia terlihat di televisi, tapi sesudah itu ada dan ada lagi.
Sampai di paragraf ini, apa yang anda rasakan? Apakah anda merasakan apa yang saya rasakan? Apakah anda merasakan ‘kengerian’ saya melihat dan mengamati ini semua? Membeli dvd bajakan adalah sebuah kegiatan kecil sehari-hari yang mungkin bagi sebagian dari kita hampir tidak berarti. Namun, menurut saya, kegiatan kecil ini sangat berpotensi menjadi kebiasaan, dan kebiasaan akan dengan mudah menjadi sesuatu analogi di dalam otak ini yang jika dipanggil akan langsung menjawab dengan cepat : dvd = bajakan. Jika ketakutan saya ini bukan angan-angan saya saja alias menjadi kenyataan, maka kegiatan kolektif ini menjadi representasi dari presepsi bangsa terhadap ‘penghargaan atas hak’ orang lain.Apakah ketakutan saya berlebihan? Menurut saya tidak.
Dalam perspektif kebangsaan, tentunya semua orang setuju bahwa kita ingin menjadi bangsa besar yang dihormati negara lain. Semua orang menjadi terusik ketika ada bangsa lain yang mencoba merendahkan bangsa kita. Tapi, dari apa yang saya sampaikan tadi, apakah anda melihat ‘future’ bangsa kita? Akankah kita mampu membangun pilar kebangsaan yang kokoh di mata bangsa lain jika membangun pilar diri sendiri yang bertumpu pada integritas saja kita tidak mampu? Integritas adalah sebuah pilihan yang mendasarkan pada kejujuran dan kesetiaan pada kebenaran yang terwujud pada pola pikir dan perilaku. Tidakkah kita malu bahwa negara kita ini di’cap’ sebagai ’surga pembajakan’? Apakah kita bisa membela diri jika direndahkan bangsa lain karena perilaku kita yang tidak bisa menghargai hak orang lain? Sebuah bangsa dibangun oleh karakter manusianya dan karakter dibangun dari pola pikir dan perilaku manusia itu. Hanya pola pikir dan perilaku yang berintegritas yang mampu menjadi tonggak kokoh bagi keberlangsungan suatu bangsa.
Meski rasanya kegelisahan saya belum sepenuhnya tercurah di tulisan ini, namun saya kira tulisan saya cukup sampai di sini. Saya berharap tulisan saya ada artinya bagi siapa saja yang membacanya. Semoga ketakutan dan kegelisahan saya menjadi ketakutan dan kegelisahan anda juga. Makin banyak orang yang gelisah dengan keadaan ini berarti makin dekat pula dengan perubahan, perubahan yang mampu membawa bangsa kita menjadi bangsa yang bermartabat. Semoga pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini hanya tertuju pada mereka dan bukan anda.
Hidup itu adalah a + b = c
by Mario on Jul.13, 2009, under Nusa Sukma
Banyak buku ditulis dan dicetak berulang kali yang isinya tentang hidup, menjalani hidup, hidup bahagia, hidup sukses, rahasia hidup, kunci kehidupan dan lain-lain. Begitu banyak pola, tips, tuntunan, siraman rohani, bullet points yang mengajarkan orang untuk berpikir dan menjalani suatu tahapan-tahapan untuk mencapai hidup yang baik, bahagia dan menyenangkan. Apakah anda membeli salah satu buku itu, membacanya dan mengikutinya, dan apakah anda memperoleh apa yang anda inginkan? Menarik bukan mengamati kita sendiri dan orang lain memiliki suatu yang sangat berharga yang disebut ‘hidup’ sejak kita lahir, namun kita kadang tidak tahu bagaimana menjalani hidup dan menikmatinya dengan bahagia.
Hidup yang orang bilang sangat kompleks ini menurut saya hanya sebuah persamaan yang sederhana : a + b = c. Dari sini mungkin salah satu atau anda semua sudah dapat menebak ke arah mana persamaan ini akan bermakna. Mari kita rubah dengan kata-kata menjadi : jika kita begini dan begini maka kita peroleh begitu. Sederhana bukan?
Alam semesta bekerja dengan sangat sederhana, dan kita yang berada di dalamnya tidak dapat menghindar dari persamaan sederhana itu. Bagaimana hidup menjadi indah, menyenangkan dan membahagiakan? Gampang! Kita hanya memasukkan elemen yang kita sukai pada huruf a dan b, dan kita akan peroleh c yang kita inginkan. Anda tidak percaya?
Alam semesta merupakan sebuah sistem yang sangat sempurna yang sangat berpihak pada siapapun yang mau merangkulnya dengan kuat, mengajaknya bersekutu. Kita yang punya badan yang lemah ini, yang sering kena batuk, pilek, demam, sakit jantung dan lain-lain ini punya satu hal yang besarnya luar biasa. Apa itu? Pikiran. Ya betul anda pasti bisa menebaknya. Pikiran kita ini sangatlah powerful yang terkadang kita sendiri sering tidak menyadarinya. Pikiran inilah yang dapat secara langsung berkomunikasi dengan alam, mengajaknya berunding dan bersekutu dan akhirnya membantu kita mencapai apa yang kita inginkan. Orang yang tidak pernah menyadari kekuatan pikirannya sendiri akan sering merasa lemah, merasa tidak mampu, merasa gampang sakit, dan sering kali memastikan sebuah kelemahan, memastikan sebuah ketidakbisaan dan ketidaktercapaian, mengapa? Begitu pikirannya berkata demikian, maka alam pun mengikuti keinginannya dan itulah yang terjadi. Kegagalan, ketidakbahagiaan, kelemahan, sakit dan lain-lain. Sesungguhnya alam adalah penurut. Dia memiliki kekuatan luar biasa yang siap untuk menemani dan membantu hidup kita dalam segala hal, ya dalam segala hal.
Mengapa seorang pencuri bisa tak terdeteksi oleh empunya barang berharga dan bisa melenggang dengan nyaman di pekarangan orang? Keyakinan yang dia bangun dalam pikirannya telah direspon oleh alam dan alam membantunya meloloskan diri. Orang yang jahatpun dapat meminta bantuan alam, meskipun akhirnya dia terkena persamaan a + b = c yang artinya kalau dia memasukkan elemen kejahatan pada a dan b maka c atau hasil yang dia peroleh juga sebuah keburukan.
Jika seorang yang jahat dapat mencapai apa yang diinginkan dengan bermodalkan kekuatan pikirannya dan meminta bantuan alam yang selalu siap sedia dan penurut itu, bagaimana dengan kita yang baik ini? Jika hanya elemen-elemen kebaikan yang kita pikirkan dan keyakinan ditumbuhkan untuk bersekutu dengan alam semesta yang baik hati ini, maka pembuktian persamaan a + b = c akan menjadi sebuah keniscayaan. Jika yang kita pikirkan selalu yang baik, yang kita lakukan hanya hal yang baik, dan pikiran kita begitu kuatnya menginginkan hal yang baik untuk terwujud, maka akankah alam semesta yang maha dahsyat ini tega berdiam diri dan tidak membantu kita? Perlukah kita khawatir bahwa apa yang kita impikan dan inginkan yaitu hidup senang, bahagia dan berkelimpahan tidak tercapai? Tidak perlu bukan?
Jadi, apakah anda sudah mengerti hidup anda? Masihkah perlu kita mencari-cari arti hidup ini dengan berkelana kesana kemari padahal ‘sang hidup’ selalu bersama kita dan tidak pernah meninggalkan kita? Simple and systematic : itulah hidup, biarkan dia sederhana dan biarkan sistemnya yang sempurna itu bekerja dan bersekutu dengan alam mewujudkan apa yang selalu kita cia-citakan dan impikan. Nikmatilah hidup.

Rejeki
by Mario on Jul.12, 2009, under Nusa Sukma
Di masa yang katanya sulit sekarang ini, banyak orang di dunia, di sekitar kita, teman-teman kita, atau bahkan kita sendiri mengalami hal yang disebut ‘kekurangan’. Bisa jadi karena harga-harga barang yang terus meningkat, ataupun penghasilan (gaji) kita yang dipotong, sehingga kemampuan kita membeli barang dan jasa menjadi menurun, dan kemudian orang menyebutnya ‘krisis’. Saat-saat seperti ini muncul ‘godaan’ bagi kita untuk mulai mengeluh dan mengungkapkan kepada teman-teman sekantor, bicara di telepon, ngobrol di gym : bahwa hidup kita makin susah, menjadi hal yang secara tidak sadar sering kita lakukan, bahkan ketika kita sendiri sebetulnya tidak mau membicarakannya. Satu pukulan (ibarat bermain badminton) disambut pukulan lain yang lebih keras, maksudnya, ketika satu orang berbicara tentang kekurangan itu, maka yang lain makin berapi-api berbicara tentang kesusahan yang dia alami. Semua orang seolah menyanyikan ‘refrain’ (bagian lagu yang diulang) secara ‘gayung bersambut’ yang bahkan tak berujung. Melakukan semua hal, terutama tentang pekerjaan, pengorbanan, sumbangan dan lain-lain menjadi sangat kondisional (bersyarat) dan kadang makin terkikis karena berkurangnya isi ‘sang kantong’.
Seringkali kita, secara tidak sadar, menyempitkan makna bahwa rejeki kita itu hanya terletak pada gaji. Kita, secara tidak sadar lagi, menganalogikan pertambahan rejeki kita dengan peningkatan gaji. Secara ekstrim sering kali mata ini terbelenggu oleh ‘kacamata kuda’ bahwa gaji inilah satu-satunya saluran rejeki bagi kita. Kerja keras yang kita lakukan selalu kita kaitkan dengan satu-satunya harapan bahwa gaji akan naik di tahun ini atau tahun depan. Lalu ketika gaji berkurang, apa yang kita peroleh? Kekecewaan? Penyesalan karena kita sudah bekerja keras? Rasa ketidakadilan karena kita merasa bahwa orang lain mungkin telah menerima lebih banyak sebelumnya dan bekerja tidak lebih keras dari kita? Hati-hati dengan ‘jebakan’ itu!
Saya ingat seorang pernah berkata, bahwa kita tidak bisa memilih sesuatu yang terjadi pada kita, namun kita selalu bisa memilih reaksi kita atas peristiwa itu. Sekali lagi SELALU BISA MEMILIH. Bukankah indah kalau kita punya pilihan?
Mengapa sebelumnya saya menyebutnya ‘jebakan’? Perasaan-perasaan yang saya sebutkan tadi adalah sebuah jebakan. Jebakan yang dengan mudah menggiring kita untuk mengeluh, iri, benci, ‘patah arang’, dan berujung pada menurunnya keinginan untuk bekerja keras. Nah, sekarang coba kita melihat lagi alur yang telah saya paparkan sebelumnya, saya yakin kita bisa bilang bahwa : hmmmm… ada yang salah ya…? Ya.. betul.. rasanya ada yang kurang tepat dengan analogi gaji sebagai satu-satunya rejeki. Jadi terus bagaimana memperbaiki analogi ini?
Bekerja adalah konsekuensi dari harapan akan rejeki. Rejeki bukanlah ‘hanya’ gaji. Manusia bergerak (bekerja) adalah konsekuensi dari kehidupan ini. Tuhan memberi manusia suatu karunia besar yang disebut ‘hidup’ dengan konsekuensi bahwa manusia harus bergerak, berusaha dengan kata lain bekerja, bekerja apa saja sesuai peran yang telah dipilih. Di lain sisi konsekuensi Tuhan yang telah meminta manusia bergerak, adalah mengkaruniakan rejeki. Rejeki melimpah kepada manusia dalam berbagai bentuk dan dari berbagai sumber. Jadi tugas kita hanyalah bergerak, bergerak sesuai peran kita, sekeras mungkin dan sebaik mungkin, karena kita juga mengharapkan rejeki yang sebaik mungkin yang menjadi keputusan Tuhan untuk melimpahkannya pada kita.
Jika konsep tentang kerja dan rejeki ini telah ada di hati dan pikiran kita, maka ketika kita bekerja yang ada hanyalah : bagaimana kita memaksimalkan peran kita. Tidak ada lagi logika pendek tentang dengan bekerja keras hari ini maka besok gaji kita dinaikkan, bekerja hanya karena agar atasan senang sehingga diprioritaskan untuk bonus dan kenaikan gaji, bahkan masih ada yang hanya ingin selalu terlihat baik di depan atasan menjadi alasan dia bekerja. Tidak ada lagi logika itu. Yang ada hanyalah pemikiran jangka panjang bahwa memaksimalkan peran saat ini akan membuka pintu-pintu rejeki yang melimpah dari Tuhan di masa datang berupa : kesehatan, kesempatan, uang, pertemanan, persahabatan, kelancaran, ketenangan hati, dan banyak lagi.
Jadi, perlukah kita khawatir ketika penghasilan kita berkurang? Jika kita sama-sama meyakini bahwa Tuhan itu Maha Baik, maka akankah Dia yang Maha Baik itu tega kepada kita yang bekerja keras menghasilkan hal-hal yang baik dengan niat yang baik dan harapan yang baik pula? Kesimpulannya, jangan batasi pekerjaan kita sejauh itu baik dan memaksimalkan peran kita. Bekerjalah sekeras mungkin hingga seolah-olah membuat Tuhan bingung rejeki apalagi yang harus dilimpahkan kepada kita sebagai imbalan atas kerja keras kita.
Bergeraklah.. Jangan pikirkan hal lain.

Berpikirlah Sekali Lagi
by Mario on Jul.12, 2009, under Nusa Sukma
Kamu mungkin telah terbiasa membeli barang bajakan. Barang bajakan yang biasa kamu beli seperti VCD, CD, DVD, CD program dan games. Cakram Digital itu mungkin yang paling sering kamu beli bahkan kamu mungkin punya hari khusus yang terjadwal untuk membeli atau ‘berburu’ serial, music, film (apalagi film yang ‘itu’) di Ambassador, Mangga Dua dan beberapa tempat lain yang mungkin buat kamu adalah ‘surga’ keping-keping mengkilat bajakan itu. Dengan hanya goceng alias 5000 rupiah kamu mungkin sudah bisa mendapatkan CD music terbaru, DVD film terbaru yang sedang ‘in’, atau mungkin CD program-program komputer, games dan segala macem. Mbak-mbak yang jaga dengan sigap akan membantu menerangkan apakah film yang kamu suka gambarnya udah ‘oke’ atau belum dan selanjutnya barang dan uang berpindah tangan. Heboh beberapa bulan yang lalau adalah tentang ‘razia bandara’ yaitu untuk yang membawa laptop (terutama akan ke luar negeri), bahwa akan ada yang merazia dan jika ketauan program (operating system or any other program) ternyata program bajakan, akan dikenakan denda 9-10 juta. Semua orang ramai membicarakan, ada yang takut dan buru-buru mengganti softwarenya dengan yang asli dan pastinya ada yang cuek bebek (karena ngrasa ga bakal pergi-pergi naek pesawat alias ga bakal ke bandara juga).
Indonesia udah dikenal sebagai ‘the paradise for piracy’ alias pembajakan di Indonesia memang sudah sangat-sangat ‘akut’. Kalo mendengar pernyataan itu, seolah semua orang telah terbiasa dan bukan hal yang baru lagi alias ‘basi deh’. Pembajakan di Indonesia tumbuh subur karena demand akan barang bajakan tidak pernah surut, TIDAK PERNAH! Jangankan surut, mungkin malah terus meningkat karena sentimen ‘krisis ekonomi’ semua orang merasa ‘berhak’ membeli barang bajakan, even mereka yang sebetulnya mampu membeli yang asli. Banyak orang merasa rugi membeli CD, VCD atau DVD asli kalo bisa membeli yang bajakan. State of mind itulah yang sudah mengakar sejak jaman dulu hingga sekarang dan itu sudah menjadi ‘reflek’ bagi banyak orang alias sesuatu yang ga perlu dipikirkan lagi, kalo pengen ya beli aja.
Nah, kalo boleh, aku mengajak kamu (yang suka membeli VCD, CD, DVD bajakan di Ambassador, Mangga Dua dan lain-lain) untuk sekali lagi berpikir, kalo sesudah itu kamu tetap ingin membeli bajakan atau tidak jadi membeli, sepenuhnya urusan kamu. Satu hal saja yang ingin aku share, bukan berarti menggurui, bukan berarti aku ingin sok suci, sok religius atau apa, tapi just a simple thought.
Aku dan kamu punya agama kan? (please jangan berhenti membaca meski mungkin kamu males banget bicara agama). Aku dan kamu berdoa setiap hari dan ke rumah ibadah seminggu sekali serta sama-sama meyakini perbuatan baik untuk dilakukan dan perbuatan jahat untuk dihindari. Aku dan kamu pun tentunya sama-sama setuju kalau pembajakan itu = mencuri (sering terlihat di spanduk-spanduk atau di kampanye anti pembajakan). Penadah barang curian pun bisa ketangkep juga, apalagi kalau tau kalo barang itu barang curian. Aku dan kamu tentunya sepakat dengan hal ini, intinya pembajakan itu sama-saama kita akui perbuatan yang ga baik. Nah, setiap hari aku dan kamu bekerja mencari uang untuk makan, untuk istri, anak, orang tua, beli mobil, nyicil rumah dan ‘sisa’nya kadang untuk membeli CD musik yang disukai, DVD film terbaru yang ingin ditonton, games, program komputer dan lain-lain untuk hiburan kita. Gajiku 2,5 juta, gajimu 10 juta . Aku membeli CD Daniel Sahuleka dan Afgan dengan total Rp. 110.000,- (75 rb plus 35 rb) dua hari yang lalu di Societie Pacific Place SCBD. Kamu membeli DVD bajakan The Dark Knite, X Files, Hancock, dan Wanted hanya dengan Rp. 20.000,- di Ambassador. Aku tidak kaya, uangku pun mungkin pas, karena aku tidak mampu membeli DVD Michael Buble (yg ditawarkan di Societie harganya 230 rb). Kamu lebih kaya, uangmu empat kali lipat uangku, tapi apa? Rp. 20.000,- tadi sudah mengotori rejeki kamu yang 10 juta itu. Dosa pencuri itu sama, meski hanya mencuri 20 rb, ga ada bedanya dengan yang mencuri milyaran rupiah. Sementara rejeki aku aku usahakan tetap bersih, hasil keringatku tak kukotori dengan dosa mencuri itu, sehingga Tuhan tentunya tidak akan enggan untuk mencukupi dan menambah rejekiku setiap aku membutuhkan lebih. Bagaimana dengan kamu? Apakah Tuhan mau mencukupi rejeki dan menambah lagi rejeki kamu yang kamu kotori dengan 20 ribu yang haram itu tadi? Simple logic right?
Nah, berpikirlah sekali lagi, sekali saja, sebelum tangan gatalmu memilih-milih DVD di Ambassador itu. Membeli barang asli tidak selalu identik dengan pemborosan, dan membeli barang bajakan tidak juga merupakan langkah penghematan. This is just a simpel thought for a simple decision.
Dari aku yang memilih untuk beli barang asli, untuk kamu. 
Tuhan kita sama…
by Mario on Jul.11, 2009, under Nusa Sukma
Tuhan ada di mana? Ada di mana-mana.
Sewaktu saya SD, saya mengikuti pelajaran agama Katholik di sekolah saya yang kebetulan berdekatan dengan sekolah yang lain dan mereka hanya punya satu guru agama Katholik sehingga kita digabung. Waktu itu saya melihat pelajaran agama sebagai pelajaran biasa tak berbeda dengan pelajaran yang lain. Saya hanya merasa berbeda dengan yang lain karena kita hanya bertujuh (total yang Katholik dengan yang Kristen Protestan) sementara empat puluhan anak yang lain beragama Islam. Kadang saya iri karena melihat teman-teman Islam lebih banyak dari kita sehingga terlihat ramai sekali kalo sang guru agama Islam bercerita tentang Nabi Muhammad dan perjalanan umat Muslim masa lalu. Pernah suatu ketika saya melihat Pak Soeratman, Guru Agama Islam bercerita tentang suatu bangsa yang menyerang Ka’Bah dan binasa karena ada burung yang menjatuhkan kerikil pada gajah-gajah tunggangan mereka dan mereka mati. Sang guru mereplikasi kejadian itu dengan menggigit kapur tulis seolah-olah dia burung yang sedang menyerang gajah-gajah tunggangan pasukan musuh para muslim. Semua anak tertawa dengan tingkah sang guru.
Kejadian itu memang sudah 22 tahun yang lalu namun masih begitu jelas seolah baru kemarin. Dalam perjalanan imani saya tentu saya terus melihat dan berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda agama dan keyakinan. Saya berteman dekat dengan mereka dan saya banyak bertanya mereka tentang ajaran agama, peritiwa-peristiwa penting bagi umat Muslim, kebiasaan-kebiasaan dan alasan dibalik semua kebiasaan itu. Semua informasi itu memperkaya saya sehingga meskipun saya bukan Muslim, saya banyak tahu tentang hal-hal yang menjadi kepercayaan Umat Muslim. Apalagi banyak nama-nama dan peristiwa yang sama dengan apa yang saya ketahui di agama saya meski untuk beberapa hal berbeda.
Saya yakin Tuhan punya alasan mengapa kita lahir dan dibesarkan dengan agama yang berbeda. Kebanyakan dari kita tidak mengalami pencarian Tuhan sebelum memeluk suatu agama karena agama yang kita peluk memang agama turun temurun yang dipeluk keluarga kita. Contohnya saya, sejak bayi saya telah dibaptis dan sejak kecil mengikuti peribadatan dan tata cara Katholik sehingga pertumbuhan iman telah berkembang secara Katholik. Saya melihat agama teman saya yang berbeda sebagai sebuah perbedaan yang tidak perlu dipertentangkan, dianalisis, dibenar-salahkan, dipertanyakan dan lain-lain tapi cukup dihormati. Penghormatan itu menurut saya tidak hanya sebatas tidak saling menyinggung atau sebatas memberikan kesempatan satu sama lain untuk beribadah. Menurut saya itu tidaklah cukup. Menurut saya penting bagi satu sama lain untuk sedikit banyak tahu tentang apa yang diyakini, konsepnya, alasan dibalik keyakinan itu dan lain-lain. Itu tidak berlebihan. Pengetahuan itu merupakan landasan bagi kita untuk menghormati teman yang berbeda agama sehingga penghormatan yang kita lakukan bukan merupakan penghormatan formalitas normatif yang hanya dalam tata nilai kesopanan semata namun betul-betul menjadi penghormatan yang tulus karena kita mengetahui alasan di balik semua keyakinan, kebiasaan dan tata cara ibadah umat yang beragama lain.
Tuhan hadir dalam berbagai cara ke dunia ini kepada berbagai pribadi dan menjadikan manusia memeluk berbagai keyakinan atau agama. Sebagian peristiwa diakui oleh dua agama atau lebih, sebagian merupakan peristiwa-peristiwa yang sangat berbeda di belahan dunia yang lain dan tumbuh menjadi agama yang berbeda. Tentu Tuhan punya alasan mengapa semua ini terjadi. Mengapa kita berbeda agama, mengapa satu peristiwa diyakini oleh dua agama yang berbeda secara berbeda pula. Pasti ada alasannya. Ada alasan yang bisa kita mengerti dan ada alasan yang terlalu besar untuk diterima oleh akal budi kita yang terbatas ini. Ada istilah yang menyebutkan alasan Tuhan sebagai sebuah ‘misteri’ yang akan terus ditelusuri oleh manusia sepanjang jaman. Hal itu biarlah terus berkembang. Satu hal yang saya yakini dan ingin saya bagi adalah : perbedaan itu untuk kita. Perbedaan itu ada agar kita makin kaya. Perbedaan itu ada agar kita bisa menghormati yang lain, menghormati dengan tulus dan tidak buta. Menghormati itu berarti mau membuka mata dan mau bertanya satu sama lain tentang apa yang diyakini, itu yang saya maksud makin kaya. Makin kaya dengan pengetahuan tidak hanya dari agama sendiri tapi juga dari agama lain.
Mengapa saya menyampaikan ini semua, karena saya yakin bahwa kita yang hidup di alam semesta yang sama ini diatur oleh sebuah kekuatan yang maha dahsyat yang sama. Darah kita sama merahnya, udara yang kita hirup ini juga disediakan oleh alam yang sama. Saya yakin sang arsitek kehidupan kita juga sama. Kita mungkin beribadah dengan cara dan aturan yang berbeda. Tuhan hadir dalam berbagai agama namun kekuatanNya saya yakin semua agama meyakini sama. Satu kata yang sama sering kita sebut meski kita berbeda agama : TUHAN. Apakah Tuhan-mu dan Tuhan-ku berbeda? Sering kita dengar “Bagiku Agamaku, Bagimu Agamamu” tapi apakah Tuhan kita berbeda? Saya 1000% yakin bahwa Tuhan saya dan Tuhan anda bukanlah pribadi yang berbeda. Saya begitu terbuka dan lega ketika saya mencapai keyakinan ini. Ya, saya yakin Tuhan kita satu, Tuhan kita sama.
Anda tidak harus yakin dengan apa yang saya yakini, tiada maksud hati saya untuk merubah apa yang anda yakini, saya hanya ingin berbagi apa yang saya yakini, selebihnya saya sangat menghormati apa yang anda yakini.
