www.mariosatrio.com

Nusa Komunika

Siapa Soerjodarmodjo?

by Mario on Aug.29, 2009, under Nusa Komunika

Tentunya teman-teman akan bertanya siapakah Soerjodarmodjo hingga saya dengan bangga menambahkan nama itu pada nama saya. Untuk itu saya akan sedikit bercerita tentang seseorang bernama Soerjodarmodjo itu.

Soerjodarmodjo sebetulnya adalah nama yang saya ambil dari nama kakek saya dari garis ibu yaitu RMNg. Darwanto Soerjodarmodjo. Eyang Darwanto ini adalah putra dari BRM. Soerjodarmodjo (nama kecilnya BRM. Sumbodo) salah satu putra dari KGPAA. Mangkoenagoro III, seorang adipati yang beristana di Pura Mangkoenagaran di bawah kekuasaan Kraton Surakarta Hadiningrat.

Eyang Darwanto memiliki 7 putra putri dan salah satunya adalah ibu saya, RAy. Hariatni Siti Ruwianti. Yang menjadikannya spesial bagi saya adalah bahwa ibu saya adalah anak ke-enam, sedangkan saya juga adalah anak ke-enam dari ibu saya, hal ini sangat unik bagi saya sehingga kemudian saya memilih untuk meneruskan nama Soerjodarmodjo (biasanya klan di Jawa mengikuti garis ayah).

Saya sangat nge-fans dengan nama Soerjodamodjo salah satunya juga karena makna dari nama itu. Soerjo = surya = matahari dan darmodjo = putra atau anak. Soerjodarmodjo berarti juga putra sang surya, sungguh makna yang sangat kuat dan berarti bagi saya. Dengan menambahkan Soerjodarmodjo pada nama belakang saya, saya seolah menerima tambahan kekuatan dari leluhur, bukan secara mistik, namun secara psikologis. Menambahkan nama Soerjodarmodjo juga berarti bahwa saya ingin membesarkan nama keluarga di masa datang dalam bentuk apapun nanti yang sesuai dengan kemampuan saya.

Demikian penjelasan saya tentang siapa dibalik nama Soerjodarmodjo yang begitu saya hormati.

Leave a Comment more...

Kyai Slamet, Kerbau bule?

by Mario on Jul.25, 2009, under Nusa Komunika

Seorang teman bertanya kepada saya perihal kerbau albino yang dia lihat di Alun-alun Selatan Kraton Surakarta, tentang asal-usulnya dan maknanya bagi warga Solo khususnya bagi Kraton. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan itu sejauh yang saya dengar, baik dari masyarakat maupun dari pihak kraton. Kurang lebih asal usul sang kerbau adalah sebagai berikut.

Tak berbeda waktunya dari cerita sebelumnya (baca postingan berjudul : Solo atau Surakarta?), yaitu pada masa Pemerintahan Pakoe Boewono II, jaman Kraton Kartasura di sekitar abad ke 17, diceritakan bahwa di kerajaan terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi yang membuat ’sinuwun’ harus melarikan diri ke Ponorogo. Di Ponorogo beliau ditampung oleh Bupati Ponorogodan berdiam di sana untuk beberapa saat hingga pemberontakan berakhir. Pada masa pelariannya di Ponorogo, Sang Raja Kartasura itu memperoleh petunjuk gaib bahwa pusaka Kyai Slamet harus ‘direkso’ atau dijaga oleh sepasang ‘kebo bule’ atau kerbau albino jika ingin kerajaan aman sentausa dan langgeng. Kuasa Tuhan yang luar biasa pada saat itu, seolah gayung bersambut, Sang Bupati Ponorogo tiba-tiba ingin menunjukkan bhaktinya kepada rajanya dengan mempersembahkan sepasang ‘kebo bule’ kepada sinuwun, tepat disaat beliau membutuhkannya. Kebo bule atau kerbau albino pada masa itu (mungkin juga pada masa sekarang) adalah kerbau yang sangat jarang ditemui dan dimiliki orang kebanyakan dan merupakan hewan piaraan bernilai tinggi. Maka sinuwun Pakue Boewono II menerima dengan baik ‘pisungsung’ (persembahan) sang bupati dan berterimakasih atas persembahan yang sangat sesuai dengan kebutuhannya. Sinuwun membawa sepasang kerbau bule itu kembali ke Kraton Kartasura setelah pemberontakan usai dan hingga kerajaan berpindah tempat ke Desa Sala dan berganti nama menjadi Kraton Surakarta Hadiningrat.

Secara turun temurun kerbau bule terus bertindak sebagai penjaga pusaka Kyai Slamet hingga masyarakat luas menyebut kerbau itu sebagai Kerbau Kyai Slamet. Menurut penuturan KRT Kalinggo Honggopuro, humas Kraton Surakarta, sebetulnya Kyai Slamet bukanlah nama kerbau. Kerbau Kyai Slamet berarti kerbau yang menjaga Kyai Slamet, sedangkan Kyai Slamet itu sendiri adalah sebuah pusaka yang tak kasat mata yang hanya Sang Raja yang tahu dan bagi rakyat kebanyakan pusaka Kyai Slamet adalah tetap misteri sehingga lebih mudah bagi mereka untuk menyebut sang kerbau saja sebagai Kyai Slamet. Hingga kini kerbau Kyai Slamet telah beranak pinak dan tetap dihormati dan disebut sebagai kerbau bule Kyai Slamet.

Setiap peringatan 1 Suro (Tahun Baru Hijriah 1 Muharam), Kraton selalu menyelenggarakan acara Kirab Pusaka Kraton dimana beberapa pusaka kraton di’kirab’ atau diarak keliling keraton dengan maksud sebagai penolak bala agar kraton dan rakyat jauh dari mara bahaya dan selalu diberi keselamatan. Kerbau Kyai Slamet memegang peranan penting di setiap kirab pusaka, karena sang kerbau yang kini berjumlah sekitar 7 ekor menjadi ‘cucuk lampah’ atau pembuka jalan bagi iring-iringan kirab. Bahkan konon, di masa lalu kerbau Kyai Slamet adalah sang penentu waktu, kapan waktu yang tepat Kirab Pusaka ini mulai berjalan.

Banyak cerita seputar kerbau albino Kyai Slamet ini. Banyak saksi mata yang bilang bahwa sang kerbau suka sekali berkelana ke mana-mana, maksudnya tidak hanya di Solo tapi banyak yang bilang kalau sang kerbau yang diyakini sakti ini terlihat di berbagai tempat di Jawa Tengah seperti di Demak, Kudus dan berbagai tempat lainnya. Tidak ada yang berani menghalau sang kerbau karena mereka merasa senang ‘dikunjungi’ makhluk bertuah itu. Menariknya, setiap kali menjelang 1 Suro, sang kerbau selalu kembali ke Alun-alun Selatan Kraton, tempat dia biasa merumput. Di saat kirab pun sang kerbau tak pernah lepas dari fenomena menarik. Yang pertama adalah kesukaan sang kyai untuk minum kopi dan makan telur mentah sebelum kirab dimulai. Jika di perjalanan kirab Kyai Slamet membuang kotoran (maaf), banyak penonton akan langsung berebut kotorannya dan menyimpannya. Untuk apa? Masyarakat desa di sekitar Solo masih sangat percaya bahwa kotoran Sang Kyai bisa menyuburkan tanah pertaniannya dan menjauhkannya dari kegagalan panen.

Kyai Slamet

Demikianlah, Kyai Slamet adalah legenda hidup yang punya peran penting bagi masyarakat Solo untuk memperkaya khasanah budaya warisan masa lalu. Jika anda ingin melihatnya, datang saja ke Kota Solo saat malam 1 Suro dan bersama ribuan warga solo mengikuti jalannya Kirab Pusaka yang selalu diawali oleh hadirnya sang kerbau bule. Semoga penjelasan saya cukup jelas.

Kirab 1 Surophoto courtesy detik.com

Leave a Comment more...

Solo atau Surakarta?

by Mario on Jul.21, 2009, under Nusa Komunika

Anda  pulang kampung kemana? Ke Solo, jawab saya. Solo tuh Surakarta yah? Seorang teman menanyakan hal itu kepada saya. Saya menjawab : iya, sama. Kotamadya Surakarta memang sering disebut orang Solo atau Sala. Jika anda bingung bagaimana menyebutnya coba menggunakan referensi bahasa Inggris berikut ini : ucapkan saw (bentuk kedua dari melihat ’see’) dan law (hukum) dan gabungkan keduanya. Ya Sala (saw law), itu yang lebih sering diucapkan orang asli Solo ketika menyebut kotanya tercinta. Karena orang susah menyebutnya (terutama orang Jakarta), maka kemudian orang menyebutnya Solo (seperti pada bahasa Inggris So Low : sangat rendah), anda bisa bedakan bukan?

Jika saya boleh sedikit bercerita mengapa ada Sala dan Surakarta, maka cerita singkatnya akan seperti ini. Pada abad ke 17, ketika itu di Jawa Tengah, kerajaan yang menguasai tanah Jawa adalah Kraton Kartasura yang berlokasi di Kartasura sekitar 10-15 km dari Kota Solo saat ini ke arah barat. Pada masa pemerintahan Paku Buwono II pada saat itu terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang tak lain adalah keponakan Sang Raja (Pangeran Mangkubumi kemudian kita kenal sebagai Hamengku Buwono I). Pemberontakan membuat Susuhunan Paku Buwono II meninggalkan kraton dan melarikan diri ke Ponorogo. Ketika keadaan telah membaik, maka sang raja kembali ke Kraton Kartasura dan mendapati puing-puing kraton yang telah rusah akibat ‘perang saudara’ tersebut. Maka, sesuai dengan kebiasaan Jawa, jika kraton dibangun kembali dari puing-puing kerusakan, maka kerajaan tidak akan  hidup langgeng. Maka Paku Buwono II memerintahkan patihnya untuk mencari daerah lain yang pantas dan tepat baginya untuk membangun kembali kerajaan yang telah rusak.

Singkat cerita di timur Kraton Kartasura ada sebuah dusun yang disebut Dusun Sala yang dipimpin oleh Ki Sala (juga sering disebut Ki Gede Sala). Ki Sala adalah abdi dalem jajar kemit (saya belum menemukan artinya dalam Bahasa Indonesia) di Kraton Kartasura. Di Dusun Sala tersebut terdapat daerah yang banyak diliputi oleh rawa-rawa yang berair.  Sesuai dengan petunjuk gaib yang diterima oleh sang patih, maka atas ijin Paku Buwono II, di rawa itu diputuskan akan dibangun kerajaan / kraton baru. Proses rawa menjadi daratan, konon juga sangat unik karena meski telah ditimbun banyak pasir dan tanah, rawa tersebut tetap berair. Sang Patih yang sakti itupun akhirnya kembali memperoleh bisikan gaib yaitu untuk menemani proses pengurukan tanah di rawa tersebut dengan nyanyian merdu seorang sinden, dan cara itupun berhasil.

Setelah bangunan kraton berdiri di daerah tersebut (tempat dimana kraton sekarang berdiri), maka seluruh bagian Kraton Kartasura dibawa ke kraton baru. Seluruh kekayaan, gamelan, pusaka dan lain-lain diboyong dengan iring-iringan yang cukup panjang. Perpindahan ini yang sekarang diperingati sebagai Ulang Tahun Kota Surakarta. Kerajaan baru telah berdiri dan Sinuwun Paku Buwono II kemudian menamakannya dengan nama yang berbeda (agar dapat hidup langgeng) yaitu dengan membaliknya menjadi Kraton Surakarta Hadiningrat.

Kiranya cerita di atas dapat menjawab pertanyaan anda mengenai Solo dan Surakarta dengan jelas, mengapa Kotamadya Surakarta disebut Sala atau Solo.

Pintu Depan Kraton Surakarta di masa lalu

Pintu Depan Kraton Surakarta di masa lalu

Leave a Comment more...

Cheap Retro Replica NFL NBA MLB Throwback Football Basketball Jerseys | hp printer ink cartridges refills| Jewelry Making Supplies | Thumb Joint Pain | Dog Health Problems |Tinkerbell Personal Checks |Garden Planters

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Archives

All entries, chronologically...