Archive for July, 2009
Yuk ke Canteen..!!
by Mario on Jul.26, 2009, under Nusa Rasa
Kalau anda kebetulan lapar dan ingin makan, tapi pengen juga sehabis makan anda bisa nongkrong dan duduk berlama-lama sambil ngobrol atau membicarakan bisnis, berarti anda butuh lebih dari sekedar makanan enak tapi juga tempat yang ‘cozy’ (nyaman dan bikin betah). Jika kedua syarat itu yang anda harus penuhi, mungkin tempat yang akan saya ceritakan berikut ini bisa jadi pilihan bagi anda.
It’s Canteen. Terletak di lantai 4 Pacific Place Mall Jakarta Selatan, Canteen hadir menemani Toko Buku aksara yang pasti sudah anda kenal. Konsep perpaduan antara buku dan makanan disajikan dengan sangat apik sehingga bagi siapa saja yang membeli buku pasti tergoda untuk melongok ke dalam Canteen untuk duduk sesaat menikmati kopi atau teh. Canteen memang berada di samping Aksara namun seolah menjadi bagian yang tidak terpisah darinya karena pengunjung tinggal belok kanan untuk buku dan belok kiri untuk makan.
Cateen didisain dengan model urban cafe yag menonjolkan simplicity dari blok-blok beton dan kayu dihiasi lampu-lampu model tahun 80-an. Kursi dan meja kayu yang simple juga satu-dua sofa di bagian kanan ditemani beberapa kursi dengan model yang berbeda seolah ingin menampilkan gaya modern yang menonjolkan ‘ketidakteraturan’. Beberapa botol wine ditaruh untuk memberi suasana bagi meja-meja agar tak kelihatan kosong. Tergantung di dinding, adalah sebuah papan (mirip papan tulis) yang bertuliskan menu-menu unggulan yang ditulis dengan kapur memperkuat suasana santai.
Waktu itu saya ke Canteen untuk kesekian kalinya, dan yang saya pesan seperti biasa adalah barley mixed tea. Teh ini bagi saya sangat unik karena menghadirkan teh dengan rasa sedikit rempah yang hangat dan wangi. Untuk makannya, saya memesan chicken roll. Chicken roll adalah sajian mirip kebab yang berisi potongan daging ayam yang dicampur sayuran dan mayonaise, digulung dalam roti tipis ala mexico (saya lupa namanya) dan ditemani french fries yang renyah. Rasanya.. mungkin lebih tepat dibilang rasanya segar. Daging ayam bercampur sayuran dan mayonaise memang terasa segar di mulut jadinya pas dan tidak eneg. Bersama dengan french fries, chicken roll ini jadi pas untuk memuaskan rasa lapar namun tidak sampai kekenyangan. Overall : chicken roll dan barley mixed tea : bisa menjadi ‘I will be back’ experience buat saya.
Selain chicken roll yang saya makan, Canteen punya banyak pilihan makanan dan minuman. Mushroom Pizza bisa jadi pilihan sharing menu ketika anda sedang berdua dan tidak ingin makan banyak. Menu lain seperti western food dan beberapa chinese food, soup dan desert yang menarik saya yakin bisa memuaskan anda. Dan bagi anda yang ingin menikmati minuman beralkohol, Canteen juga menyediakan berbagai pilihan.
Untuk ukuran cafe, saya beri angka 8 buat Canteen, dari makanan, minuman sampai pelayanan para waiter dan waitress yang memang sangat ramah dan cekatan. So, tunggu apalagi? Bagi anda yang belum mengunjungi Canteen Aksara di Pacific Place lantai 4, segera ajak rekan bisnis anda untuk lunch meeting di situ atau untuk sekedar ngobrol. Dijamin, pasti betah lama. Makan Yuk !!

Patin Bakar Cipete : Joss !!
by Mario on Jul.26, 2009, under Nusa Rasa
Sebelum saya hijrah ke Jakarta, saya kurang mengenal ikan yang namanya Ikan Patin itu, dan saya baru tahu tentang ikan patin setelah saya di Jakarta dan kebetulan di kantin kantor ada yang menjajakan patin bakar yang cukup ‘nendang’. Setelah itu saya jadi sering melihat beberapa kedai makan kaki lima menawarkan ikan patin sebagai teman makan, biasanya makan malam. Melalui televisi dan dari sebuah perjalanan ke Bangkok saya jdi makin tahu banyak tentang ikan ini. Di beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah, pengembakbiakan ikan patin makin banyak di tambak-tambak untuk memasok kebutuhan kota besar termasuk Jakarta. Di Bangkok, ketika saya menyusuri Sungai Chao Praya, di salah satu tepinya terdapat sebuah kuil atau vihara yang sangat dihormati rakyat Thailand dan tepat di depan kuil itu, ikan patin sebesar ukuran paha orang dewasa sangat banyak dan dilarang untuk diambil atau dimakan. Menurut cerita tourguide kami, bagi mereka yang berdoa di kuil ini dan memperoleh apa yang diinginkannya, maka dia akan memberikan makanan kepada ikan patin tersebut sebagai wujud syukurnya.
Nah, lalu dimanakah kira-kira kita bisa menikmati ikan patin yang paling enak? Jawabannya ada di cerita saya berikut ini.
Suatu malam, teman sekantor mengajak saya ke daerah Cipete Raya ( dari arah blok M, Fatmawati, di depan D-Best ke kiri). Sekitar 100 meter dari ujung jalan, tepatnya di depan Restoran Bumbu Desa, ada sebuah kedai makan. Kalau dari luar, kedai ini seolah memang bukan kedai. Tidak ada papan nama yang kelihatan, kursi-kursi dibiarkan sedikit tak teratur, kanopi depan dari terpal yang sudah hampir robek. Awalnya saya ragu, tapi teman saya bilang bahwa ikan patin di sini adalah yang paling enak. Kami pun memesan patin bakar ukuran 1,5 kilogram plus tempe penyet dan tumis kangkung.
Cukup lama kami menunggu dan akhirnya sang patin bakar datang juga. First impression : saya suka cara membakarnya, rata dan hampir gosong. Sambal yang menemani adalah sambal cair lembut berwarna hijau muda. Tak sabar saya langsung mencicipi daging ikan patin yang sangat menggoda ini, dan…. Wow !!! Komentar saya : Sinting !! Patin bakar ini sangat enak! Teman saya ternyata tak bohong. Daging patin yang empuk dan seikit berlemak disajikan dengan bumbu bakaran yang sangat eksotik. Ada rasa rempahnya, ada pedasnya, ada rasa black peppernya dan manis dari kecapnya. Sungguh paduan rasa yang sangat nikmat untuk makan malam saya waktu itu. Lalu saya mencoba memakannya dengan ’sambal ijo’ yang tersedia. Ternyata sambalnya tak kalah unik. Karena cair, sambal ini segar tapi nendang banget pedasnya. Mungkin sambalnya diblender, karena sangat lembut, tapi yang terpenting memang paduan ramuan yang membuatnya yang terasa unik.

Saya sempat bertemu dengan ownernya dan iseng saya bertanya apa bumbunya. Meski merahasiakannya, namun dia sempat men-share bahwa pencarian bumbu bakarnya itu memakan waktu lebih dari 3 tahun, tak heran kalau memang hasilnya enak. Pokoknya Ikan Patin Bakar Cipete telah menjadi top reccomendation saya untuk saat ini bagi siapa saja yang pengen makan ikan. Mereka buka dari jam 10 pagi sampai malam banget. Makan Yuk !!
Mangut Ikan Pe Mbak Endang
by Mario on Jul.26, 2009, under Nusa Rasa
Biasanya kalau malam hari, saya memilih tidak makan, atau kalaupun makan, saya mencari makanan yang ada di dekat rumah saya. Malam itu, saya lupa dari mana, tapi saya sedang naik taksi melewati jalan Tendean dan belok ke kiri ke jalan Wijaya. Sekilas saya meilhat sebuah papan nama cukup besar di kanan jalan berbunyi : Rumah Makan Ny. Endang, Masakan Rumah. Langsung saya minta taksi berhenti karena rasa ingin tahu saya tak tahan ingin mencoba makanan di tempat itu.
Tiba di sana, saya masuk melewati pintu berwarna putih, pintu model rumah masa lampau yang berkaca dan berhiaskan semacam teralis dari besi. Suasana di dalam tenang dan seolah saya sedang berada di ruang makan sebuah rumah biasa. Beberapa hiasan kayu dan gentong tanah liat menghiasi ingin menghadirkan suasana homy bagi siapapun yang datang. Di setiap meja, di bawah kaca, terpampang foto-foto hampir semua menu yang disajikan di rumah makan ini. Dari bestik jawa, tahu gimbal semarang, nasi langgi, lontong cap gomeh dan banyak lagi masakan jawa, kira-kira gaya semarang. Waitress dateng menanyakan ingin memesan apa, dan seperti biasa saya langsung bertanya : spesialnya apa? Dengan cekatan ia menjawab : Mangut Ikan Pe Panggang Pak, saya kemudian mengiyakan pesanan itu karena curious seperti apa rasanya.
Soal mangut ikan pe, beberapa tahun yang lalu, mungkin 5-6 tahun yang lalu, seorang teman pernah membawa masakan yang waktu itu baru bagi saya. Masakan itu dibawanya langsung dari Semarang dan namanya Mangut Ikan Pe. Lalu saya bertanya ikan pe itu ikan apa? Saya akhirnya baru tahu pada saat itu bahwa yang dimaksud Ikan Pe adalah singkatan dari ikan pari.
Kembali ke malam itu, sang waitress akhirnya datang lagi membawa sebuah mangkuk ukuran sedang, dan didalamnya tersaji mangut yang saya minta. Mangut ikan Pe adalah sajian berbasis ikan yang menggunakan santan cukup kental sebagai kuahnya. Melihat potongan-potongan ikannya, terlihat bahwa ikan ini dibakar / dipanggang terlebih dahulu sehingga terlihat ada bagian yang gosong. Beberapa potong ikan pari ini disajikan bersama beberapa potong tahu dan digarnis dengan daun kemangi dan irusan ketimun. Kini saatnya bagi saya untuk mencicipinya.. jeng.. jeng…
Saya mulai memotong daging ikannya dan mencicipinya bersama kuahnya. Hmmmm… Rasanya lengkap ! Santan gurih, mantab dan cenderung pedas, daging ikan yang empuk, dan yang khas bagi saya adalah rasa ikan yang unik serta aroma ’sangit’ (aroma gosong) dari panggangan ikan pari yang membuatnya gosong di sana sini. Dengan nasi hangat saaya mulai makan degan lahap sepotong demi sepotong ikan pari itu, nikmat. Ternyata memang benar kata beberapa teman bahwa Mangut Ikan Pe di RM. Ny Endang memang tidak ada duanya. Meski saya tak mampu menghabiskan seluruhnya, karena memang berlebih untuk satu orang, namun saya sangat puas malam itu karena selain mampu mengusir rasa lapar, Mangut Ikan Pe Ny Endang punya cita rasa tersendiri yang khas dan istimewa bagi saya.
Sajian khas Semarang ini mungkin jarang kita temui di tempat lain di Jakarta, jadi jujur pengalaman malam itu cukup memperkaya ‘bank data’ saya tentang makanan. Selamat mencobanya ya. Makan Yuk !!

Kyai Slamet, Kerbau bule?
by Mario on Jul.25, 2009, under Nusa Komunika
Seorang teman bertanya kepada saya perihal kerbau albino yang dia lihat di Alun-alun Selatan Kraton Surakarta, tentang asal-usulnya dan maknanya bagi warga Solo khususnya bagi Kraton. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan itu sejauh yang saya dengar, baik dari masyarakat maupun dari pihak kraton. Kurang lebih asal usul sang kerbau adalah sebagai berikut.
Tak berbeda waktunya dari cerita sebelumnya (baca postingan berjudul : Solo atau Surakarta?), yaitu pada masa Pemerintahan Pakoe Boewono II, jaman Kraton Kartasura di sekitar abad ke 17, diceritakan bahwa di kerajaan terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi yang membuat ’sinuwun’ harus melarikan diri ke Ponorogo. Di Ponorogo beliau ditampung oleh Bupati Ponorogodan berdiam di sana untuk beberapa saat hingga pemberontakan berakhir. Pada masa pelariannya di Ponorogo, Sang Raja Kartasura itu memperoleh petunjuk gaib bahwa pusaka Kyai Slamet harus ‘direkso’ atau dijaga oleh sepasang ‘kebo bule’ atau kerbau albino jika ingin kerajaan aman sentausa dan langgeng. Kuasa Tuhan yang luar biasa pada saat itu, seolah gayung bersambut, Sang Bupati Ponorogo tiba-tiba ingin menunjukkan bhaktinya kepada rajanya dengan mempersembahkan sepasang ‘kebo bule’ kepada sinuwun, tepat disaat beliau membutuhkannya. Kebo bule atau kerbau albino pada masa itu (mungkin juga pada masa sekarang) adalah kerbau yang sangat jarang ditemui dan dimiliki orang kebanyakan dan merupakan hewan piaraan bernilai tinggi. Maka sinuwun Pakue Boewono II menerima dengan baik ‘pisungsung’ (persembahan) sang bupati dan berterimakasih atas persembahan yang sangat sesuai dengan kebutuhannya. Sinuwun membawa sepasang kerbau bule itu kembali ke Kraton Kartasura setelah pemberontakan usai dan hingga kerajaan berpindah tempat ke Desa Sala dan berganti nama menjadi Kraton Surakarta Hadiningrat.
Secara turun temurun kerbau bule terus bertindak sebagai penjaga pusaka Kyai Slamet hingga masyarakat luas menyebut kerbau itu sebagai Kerbau Kyai Slamet. Menurut penuturan KRT Kalinggo Honggopuro, humas Kraton Surakarta, sebetulnya Kyai Slamet bukanlah nama kerbau. Kerbau Kyai Slamet berarti kerbau yang menjaga Kyai Slamet, sedangkan Kyai Slamet itu sendiri adalah sebuah pusaka yang tak kasat mata yang hanya Sang Raja yang tahu dan bagi rakyat kebanyakan pusaka Kyai Slamet adalah tetap misteri sehingga lebih mudah bagi mereka untuk menyebut sang kerbau saja sebagai Kyai Slamet. Hingga kini kerbau Kyai Slamet telah beranak pinak dan tetap dihormati dan disebut sebagai kerbau bule Kyai Slamet.
Setiap peringatan 1 Suro (Tahun Baru Hijriah 1 Muharam), Kraton selalu menyelenggarakan acara Kirab Pusaka Kraton dimana beberapa pusaka kraton di’kirab’ atau diarak keliling keraton dengan maksud sebagai penolak bala agar kraton dan rakyat jauh dari mara bahaya dan selalu diberi keselamatan. Kerbau Kyai Slamet memegang peranan penting di setiap kirab pusaka, karena sang kerbau yang kini berjumlah sekitar 7 ekor menjadi ‘cucuk lampah’ atau pembuka jalan bagi iring-iringan kirab. Bahkan konon, di masa lalu kerbau Kyai Slamet adalah sang penentu waktu, kapan waktu yang tepat Kirab Pusaka ini mulai berjalan.
Banyak cerita seputar kerbau albino Kyai Slamet ini. Banyak saksi mata yang bilang bahwa sang kerbau suka sekali berkelana ke mana-mana, maksudnya tidak hanya di Solo tapi banyak yang bilang kalau sang kerbau yang diyakini sakti ini terlihat di berbagai tempat di Jawa Tengah seperti di Demak, Kudus dan berbagai tempat lainnya. Tidak ada yang berani menghalau sang kerbau karena mereka merasa senang ‘dikunjungi’ makhluk bertuah itu. Menariknya, setiap kali menjelang 1 Suro, sang kerbau selalu kembali ke Alun-alun Selatan Kraton, tempat dia biasa merumput. Di saat kirab pun sang kerbau tak pernah lepas dari fenomena menarik. Yang pertama adalah kesukaan sang kyai untuk minum kopi dan makan telur mentah sebelum kirab dimulai. Jika di perjalanan kirab Kyai Slamet membuang kotoran (maaf), banyak penonton akan langsung berebut kotorannya dan menyimpannya. Untuk apa? Masyarakat desa di sekitar Solo masih sangat percaya bahwa kotoran Sang Kyai bisa menyuburkan tanah pertaniannya dan menjauhkannya dari kegagalan panen.

Demikianlah, Kyai Slamet adalah legenda hidup yang punya peran penting bagi masyarakat Solo untuk memperkaya khasanah budaya warisan masa lalu. Jika anda ingin melihatnya, datang saja ke Kota Solo saat malam 1 Suro dan bersama ribuan warga solo mengikuti jalannya Kirab Pusaka yang selalu diawali oleh hadirnya sang kerbau bule. Semoga penjelasan saya cukup jelas.
photo courtesy detik.com
Gurihnya Lontong Medan…
by Mario on Jul.25, 2009, under Nusa Rasa
Kali ini langkah kaki membawa saya ke daerah Kelapa Gading, daerah di Jakarta yang sangat jarang saya sambangi karena memang lokasinya yang cukup jauh dari tempat saya tinggal di Kebayoran. Seorang teman telah mengundang saya melalui blackberry messengernya untuk datang di kedai makan yang baru dia buka di Mall Kelapa Gading 5. Setelah lebih dari satu jam perjalanan, akhirnya saya sampai dan karena sudah lama saya tidak mengunjungi pusat perbelanjaan itu saya pun mencari-cari tempat yang dimaksud teman saya dengan bertanya ke sana kemari. Akhirnya saya sampai di food court Eat & Eat Adventure, kalau tidak salah itu namanya, yang berada di lantai 3 Mall Kelapa Gading 5 dan teman saya membuka kedai makannya di salah satu stand di situ.
Kalau boleh saya bercerita sedikit tentang area food court ini, bisa dibilang area ini di-disain secara khusus yang bagi saya sangat menarik. Konsep ‘chinatown’ di masa lalu bercampur budaya lokal (Indonesia) disajikan dengan sangat detail baik dari pilihan bentuk furnitur yang semuanya dari kayu sampai ‘aksesoris’ yang menemaninya. Berbagai perabot yang dipakai di masa lalu dipajang hampir di setiap sudut-sudut stand-stand makanan yang ada dan jika kita mendongak sedikit ke atas, bolam lampu-lampu dipasang seperti pasar malam tempo dulu ditambah hiasan anyaman bambu yang digantung dengan berbagai ukuran, hiasan ini cukup membuat saya tertegun. Puluhan jenis makanan disajikan di food court ini, sekilas memang lebih banyak makanan Indonesia seperti Gudeg Jogja, bebek goreng, empal gentong, es doger, es durian, pisang hijau dan masih banyak lagi lainnya.
Akhirnya saya tiba di lokasi kedai milik teman saya, lokasinya sedikit di pojok area itu. “Lontong Medan Ny. Tien”. Hmmmm… dalam hati saya langsung bertanya, bagaimanakah rasanya? Terus terang saya belum pernah mencicipi lontong medan. Agar saya betul-betul merasakan lontong medan secara penuh, maka saya memesan Lontong Medan Komplit seraya menunggu teman saya si empunya kedai yang belum datang. Lontong Medan Komplit sudah tersaji di hadapan saya, saya amati cukup seksama sebelum masuk ke mulut saya. Beberapa potongan lontong diguyur dengan kuah santan kekuningan (sedikit kemerahan), dihiasi telur berlumur sambal merah dan sepotong rendang (sangat mirip dengan telur pedas dan rendang Padang). Yang menarik adalah taburan di atasnya. Ada tempe kering (seperti di nasi uduk), sayur buncis diiris tipis-tipis dan yang khas tentunya adalah taburan teri medan yang digoreng. Sudah saya duga bahwa pasti hidangan Sumatera tidak akan jauh dari saantan, maka saya langsung mencicipi santannya yang terlihat sangat kental. Begitu sampai di lidah, hmmm.. amazing.. ternyata rasanya tak seberat perkiraan saya, mantab tapi ringan. Saya mulai makan sesendok demi sesendok dan mencoba menikmati tiap bagian dari lontong medan itu, lontongnya, tempe dan terinya, telur pedas dan juga daging rendang yang empuk, nikmat rasanya. Kalau boleh saya berkomentar, bumbunya jelas dan mantap, pedasnya pas, dan yang unik adalah paduan santan yang gurih dengan teri medan yang renyah, wah… unpresedented! Awalnya saya berpikir bahwa saya tidak akan menghabiskan lontong medan ini karena saya biasanya tidak begitu kuat makan dengan santan yang cukup kental, namun lezatnya Lontong Medan Ny. Tien ini membuat saya menghabiskannya hingga tetes kuah terakhir, memang sungguh delicioso!
Usai makan akhirnya sang pemilik datang juga, Fazikka Ibrahim, seorang teman yang asli Aceh dan punya hobby yang sama dengan saya : jalan dan makan. Saya sampaikan salut saya untuk idenya membuka stand lontong medan di mall ini dan saya sampaikan kepadanya komentar saya soal lezatnya lontong medan miliknya. Saya dengarkan cerita dia tentang suka dukanya men-set up kedainya dalam kurun waktu yang sangat singkat, hanya tiga minggu, dan saya yakin bahwa dia masih punya ide-ide yang sangat banyak untuk mengembangkan usaha makanannya.

Penulis dan Si Owner.. Insert : Lontong Medan komplit
Mengakhiri ulasan ini, saya ucapkan selamat buat teman saya untuk usaha barunya, Lontong Medan Ny. Tien terbukti memang lezat dan nikmat. Dan bagi anda yang sering nongkrong di Kelapa Gading atau ingin menikmati gurihnya Lontong Medan yang dijamin tidak mengecewakan, kunjungi kedai Lontong Medan Ny. Tien di Eat & Eat Adventure di Kelapa Gading Mall 5 lantai 3. Makan Yuk !!
Nasi Jamblang, kenangan di Cirebon
by Mario on Jul.21, 2009, under Nusa Rasa
Dalam sebuah perjalanan tugas, saya singgah di Kota Cirebon untuk sebuah acara talkshow mengenai produk investasi. Saya menginap di sebuah hotel yang cukup baik di Cirebon bersama rombongan lain dari Jakarta. Di malam hari seusai acara, biasanya kita jalan-jalan keliling kota untuk mencari makanan yang khas di kota itu, dan di malam itu pun kita dengan dua mobil menyusuri sepinya Kota Cirebon (sekitar jam 22.00). Atas anjuran serang teman yang tinggal di cirebon, maka kita diajak makan makanan khas Kota Cirebon yaitu Nasi Jamblang, dan menurut dia, tempat yang kita tuju ini adalah nasi jamblang yang paling enak di Cirebon.
Kami akhirnya sampai di tempat itu, di deket sebuah bangunan seperti bangunan sekolahan. Sebuah warung kecil dengan bedeng sederhana menyambut kami dengan ramah dan kami pun duduk mengelilingi sebuah meja persegi yang berukuran sedang. Di meja itu ditaruh banyak baskom yang berisi berbagai lauk pauk. Awalnya saya berpikir bahwa nasi jamblang adalah sebuah paket nasi dengan ‘pakem’ lauk pauk khusus seperti nasi langgi atau nasi liwet di Jawa Tengah. Ternyata saya sdikit keliru. Nasi jamblang adalah nasi yang disajikan dengan alas daun jati dengan lauk yang bebas memilih. Ternyata itu yang membuat nasi ini menjadi khas. Nasi panas yang berpadu dengan aroma daun jati telah berpadu dan bagi saya hal itu menciptakan sensasi tersendiri. Sementara lauk-pauknya mungkin tidak begitu aneh, seperti jengkol yang dimasak seperti semur pedas, tahu dan tempe bacem atau goreng, telur ceplok dan beberapa lauk lainnya. Yang special bagi saya adalah : sambalnya !! Betul, sambalnya yang pedas, sedikit basah, cenderung manis, telah menjadi penghangat suasana yang luar biasa di malam itu. Saya mencoba mencari-cari tahu dari rasa sambal itu, namun tidak ketemu apa yang membuatnya special, bukan trasinya, bukan tomat, bukan bawang putih.. Yah mungkin perpaduan semuanya dengan kadar yang pas yang membuatnya ga ketulungan nikmatnya.

Liat tuh lauknya..
Jadi, buat anda yang kebetulan lewat atau berkunjung ke Cirebon, jangan sampai lupa untuk mencicipi nasi jamblang, jangan hanya empal gentong ya.. Makan yuk !!
Solo atau Surakarta?
by Mario on Jul.21, 2009, under Nusa Komunika
Anda pulang kampung kemana? Ke Solo, jawab saya. Solo tuh Surakarta yah? Seorang teman menanyakan hal itu kepada saya. Saya menjawab : iya, sama. Kotamadya Surakarta memang sering disebut orang Solo atau Sala. Jika anda bingung bagaimana menyebutnya coba menggunakan referensi bahasa Inggris berikut ini : ucapkan saw (bentuk kedua dari melihat ’see’) dan law (hukum) dan gabungkan keduanya. Ya Sala (saw law), itu yang lebih sering diucapkan orang asli Solo ketika menyebut kotanya tercinta. Karena orang susah menyebutnya (terutama orang Jakarta), maka kemudian orang menyebutnya Solo (seperti pada bahasa Inggris So Low : sangat rendah), anda bisa bedakan bukan?
Jika saya boleh sedikit bercerita mengapa ada Sala dan Surakarta, maka cerita singkatnya akan seperti ini. Pada abad ke 17, ketika itu di Jawa Tengah, kerajaan yang menguasai tanah Jawa adalah Kraton Kartasura yang berlokasi di Kartasura sekitar 10-15 km dari Kota Solo saat ini ke arah barat. Pada masa pemerintahan Paku Buwono II pada saat itu terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang tak lain adalah keponakan Sang Raja (Pangeran Mangkubumi kemudian kita kenal sebagai Hamengku Buwono I). Pemberontakan membuat Susuhunan Paku Buwono II meninggalkan kraton dan melarikan diri ke Ponorogo. Ketika keadaan telah membaik, maka sang raja kembali ke Kraton Kartasura dan mendapati puing-puing kraton yang telah rusah akibat ‘perang saudara’ tersebut. Maka, sesuai dengan kebiasaan Jawa, jika kraton dibangun kembali dari puing-puing kerusakan, maka kerajaan tidak akan hidup langgeng. Maka Paku Buwono II memerintahkan patihnya untuk mencari daerah lain yang pantas dan tepat baginya untuk membangun kembali kerajaan yang telah rusak.
Singkat cerita di timur Kraton Kartasura ada sebuah dusun yang disebut Dusun Sala yang dipimpin oleh Ki Sala (juga sering disebut Ki Gede Sala). Ki Sala adalah abdi dalem jajar kemit (saya belum menemukan artinya dalam Bahasa Indonesia) di Kraton Kartasura. Di Dusun Sala tersebut terdapat daerah yang banyak diliputi oleh rawa-rawa yang berair. Sesuai dengan petunjuk gaib yang diterima oleh sang patih, maka atas ijin Paku Buwono II, di rawa itu diputuskan akan dibangun kerajaan / kraton baru. Proses rawa menjadi daratan, konon juga sangat unik karena meski telah ditimbun banyak pasir dan tanah, rawa tersebut tetap berair. Sang Patih yang sakti itupun akhirnya kembali memperoleh bisikan gaib yaitu untuk menemani proses pengurukan tanah di rawa tersebut dengan nyanyian merdu seorang sinden, dan cara itupun berhasil.
Setelah bangunan kraton berdiri di daerah tersebut (tempat dimana kraton sekarang berdiri), maka seluruh bagian Kraton Kartasura dibawa ke kraton baru. Seluruh kekayaan, gamelan, pusaka dan lain-lain diboyong dengan iring-iringan yang cukup panjang. Perpindahan ini yang sekarang diperingati sebagai Ulang Tahun Kota Surakarta. Kerajaan baru telah berdiri dan Sinuwun Paku Buwono II kemudian menamakannya dengan nama yang berbeda (agar dapat hidup langgeng) yaitu dengan membaliknya menjadi Kraton Surakarta Hadiningrat.
Kiranya cerita di atas dapat menjawab pertanyaan anda mengenai Solo dan Surakarta dengan jelas, mengapa Kotamadya Surakarta disebut Sala atau Solo.

Pintu Depan Kraton Surakarta di masa lalu
Yang Unik di Sudut Malioboro
by Mario on Jul.18, 2009, under Nusa Rasa
Mendengar Malioboro, pasti anda tahu bahwa yang saya akan bicarakan adalah Jogja. Pesona Jogja telah menarik banyak orang untuk datang dan datang lagi untuk berlibur dan menikmati indahnya kota jalan-jalan di Kota Gudeg ini. Jika anda berkunjung di Jogja, pastinya akan anda sempatkan untuk berjalan-jalan di Malioboro, sebuah jalan yang telah membuat Kota Jogja begitu terkenal sebagai tujuan wisata jalan-jalan. Malioboro begitu sesak seperti biasa, ketika saya injakkan kaki saya di sana untuk memulai jalan-jalan saya siang itu. Jika anda biasanya berjalan-jalan di Malioboro di malam hari, cobalah untuk berjalan-jalan di sana di pagi menjelang siang hari, sekitar jam 11-12 siang. Memang sedikit panas, namun beberapa penjaja makanan mungkin tidak akan berjualan di malam hari. Contohnya adalah apa yang akan saya ceritakan. Di salah satu sudut malioboro, diantara sesaknya para penjual souvenir, celana, baju, makanan ringan dan lain-lain, ada seorang ibu tua yang berdiri sambil memegangi bakul dagangannya. Saat saya melewatinya, saya teringat dengan ibu tua ini (usianya mungkin lewat 70 tahun), wajahnya begitu familiar. Ingatan saya langsung menuju Pak Bondan (Wisata Kuliner TRANSTV) yang kala itu mengajak Butet Kertarajasa yang orang Jogja untuk berwisata kuliner di Jogja dan salah satunya mampir membeli makanan ibu tua ini. Tahukah anda apa yang dijualnya? Ya betul : panggang ayam. Setahu saya dia satu-satunya yang berjualan panggang ayam di Malioboro, karena panggang ayam memang makanan yang cukup langka.
Saya kemudian menghampirinya, dan langsung mencicipi salah satu dagangannya yaitu sate usus ayam. Hmmm.. rasanya mengingatkan saya pada masa kecil saya ketika orang tua saya dulu membelikan sate usus ayam yang dipanggang dengan rasa yang mirip sekali dengan yang saya makan saat itu. Memang nikmat. Sate usus tadi hanya Rp. 2.000,- namun telah membangkitkan memori yang luar biasa bagi saya. Rasa pangggang ayamnya khas, ada bau sangitnya yang membuatnya menjadi unik. Manisnya dan gurihnya pas, ususnya pun soft mendarat di mulut dan tidak alot. Karena saya hanya ingin mencicipi, saya tidak membeli daging ayamnya, karena terlalu berat buat saya saat itu yang sudah makan sebelumnya.
Meski saya sempat berfoto dengan ibu tua itu, namun saya sangat menyesal karena lupa menanyakan namanya, karena ketika tulisan ini saya buat, ingin sekali saya bisa tahu namanya. Saya hanya berharap bahwa ada generasi penerus ibu tua tadi yang melestarikan panggang ayam (suka dijajakan dengan logat : penggeng eyeeemm.. kata Butet) karena pasti saya dan mungkin ada diantara anda yang kangen dengan panggang ayam yang khas dan unik ini.
Bagi anda pengunjung situs ini yang berencana ke Jogja, saya hanya ingin titip tengok buat ibu tua tadi, dan jika tak keberatan catat nama beliau, dan jangan lupa cicipi panggang ayamnya ya.. selamat mencoba.. Makan Yuk !!

Mie dengan tendon sapi di Hongkong
by Mario on Jul.18, 2009, under Nusa Rasa
Suatu ketika, karena ajakan beberapa teman, saya berlibur ke Hongkong untuk beberapa hari. 4 jam perjalanan dengan Garuda Indonesia kami berempat lalui dengan sedikit mati gaya, karena jujur kita sedikit bosan ga bisa bergerak selama 4 jam lebih di pesawat. Tentunya yang ingin saya ceritakan tak lain adalah yang ada hubungannya dengan makanan. Ketika berkunjung ke suatu tempat, pasti kita ingin mencari makanan apa yang khas di daerah itu yang tak kita jumpai di tanah air. Seorang teman mengajak saya ke daerah yang disebut Mongkok, ke sebuah pasar barang-barang souvenir yang disebut ‘Ladies Market’ yang buka hingga sekitar jam 10 malam. Entah mengapa disebut Ladies Market, mungkin dulu awalnya yang suka berbelanja di situ adalah para wanita, karena di situ bakal kita jumpai beraneka ragam barang-barang yang disukai para wanita dari dompet, aksesoris dan lain lain.
Teman saya tadi kebetulan memang sudah beberapa kali ke Ladies Market dan ketika itu dia mengajak saya ke sebuah lorong yang sedikit gelap dan sempit. Teman saya bilang bahwa mie di lorong itu sangat enak dan tidak ada duanya, dan kita wajib hukumnya untuk mencicipi mie ini jika berkunjung ke Hongkong. Kami berempat akhirnya mendapat tempat meski tempat itu selalu penuh oleh para pengunjung. Di sekitar tempat saya duduk, nampak barang-barang bekas dan bedeng-bedeng yang kotor dan tidak rapih, sedikit membuat saya tidak nyaman. Sang waiter menanyakan kepada kami dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, mie apa yang ingin kita makan : fish or beef ? (kalo saya tidak salah tangkap). Demi amannya, karena saya belum pernah merasakan mie ini, saya memilih beef, dan teman-teman saya pun memilih makanan yang sama.
Ketika mie disajikan, wow…! Nampak mie berjenis mie kecil, dihiasi potongan daging sapi yang cukup besar, dan tentunya dengan minyak yang berkilauan di atas kuahnya.. Pemandangan yang membuat kami bertiga hampir meneteskan air liur.
Tak sabar saya akhirnya mulai mengambil mie itu denga sumpit dan memasukkannya ke mulut saya dan….. Hmmmmm..Luar biasa !!! Mie yang kecil tadi legit dan gurih. Kuah yang segar dengan kaldu yang cukup padat namun ringan di mulut, gurih dan lezat. Paduan bumbu-bumbu dalam kuah itu sangat khas dan sangat sesuai dengan lidah orang Indonesia. Daging yang saya gigit sangat empuk, terlihat kalau telah direbus dan dibumbui cukup lama. Ternyata teman saya benar, mie ini memang luar biasa. Tak menyesal saya menyusuri Ladies Market dan masuk ke lorong sempit dan gelap ini untuk mencicipi sajian yang tak ada duanya ini : delicioso !!
Buat anda yang kebetulan bertandang ke Hongkong dan jalan-jalan di Ladies Market Mongkok, di sela-sela anda berbelanja barang elektronik atau branded handbag, sempatkan untuk mencari dan menemukan mie tadi (seingat saya tidak ada plang nama), karena pasti anda akan suka, Makan Yuk !!

Roemahkoe, Bed & Breakfast
by Mario on Jul.17, 2009, under Nusa Rasa
Jika anda kebetulan berkunjung ke Solo (Surakarta) Jawa Tengah, sempatkanlah untuk mengunjungi daerah batik Laweyan yang terkenal itu. Di sekitar Laweyan itu, ada satu rumah milik ‘Juragan’ Batik masa lalu yang telah disulap oleh pemiliknya menjadi restoran dan penginapan. Kondisi rumah masih asli seperti ‘tempo doeloe’ dengan furnitur dan hiasan khas rumah Jawa gaya Surakarta, khas ‘Juragan Batik’. Furnitur yang dipenuhi nuansa kayu jati berwarna gelap ditambah beberapa foto Kota Surakarta di masa lalu telah menghadirkan nuansa kuno yang sangat kental. Tak ketinggalan, makanan yang disajikan merupakan menu khas Surakarta masa lalu yang disajikan dengan seminimalis mungkin seolah-olah sedang menjamu tamu-tamu juragan batik yang sedang berkunjung. Beberapa kamar di sekeliling bangunan utama (tempat restoran berada) telah dirubah menjadi penginapan setara hotel bintang 3 atau 4, tetap dengan nuansa kayu coklat legam dan nuansa putih untuk sprei dan tirainya.
Pada saat saya berkunjung ke sana, saya tidak begitu lapar, saya sebetulnya hanya ingin menikmati rindangnya suasana di Roemahkoe sembari mengagumi beberapa foto yang dipajang. Saya memesan kroquete yang disajikan dengan ukuran kecil ditemani sedikit home made mayonaise. Rasanya sangat seusuai dengan yang saya harapkan : gurih sedikit asin dan nikmat. Tak afdol rasanya jika menikmati penganan khas Solo itu tanpa cabai rawit, hmmmm… menambah sedapnya sore hari waktu itu. Jika saya berkunjung ke Solo lagi, pasti akan saya sempatkan untuk datang ke Roemahkoe karena saya ingin mencicipi hidangan yang lain, Makan Yuk !!